MAKALAH
“KESENJANGAN PENDAPATAN DAN TINGKAT
PENDIDIKAN"

MANAJEMEN
B.2.1
KELOMPOK
7
RAMA
ARDIYANSYAH
AAM
SITI HOMSYAH
SUWARJO
M.BAHTIAR
INDRIANI
NINGSIH
ANTARESTO
DENNY PRATAMA S.
UMI
VIRGIANTI
SITI
SOLIKHA
NUR
AENI,SE.MSi
Kata
Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan nikmat, rahmat serta karunia-Nya yang diberikan kepada kita,
terutama nikmat iman dan nikmat Islam, nikmat sehat wal'afiat serta nikmat
panjang umur, sehingga alahamdulillah kita ( penyusun ) dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “
Kesenjangan Pendapatan dan tingkat pendidikan “
dan semua cita-cita serta harapan yang ingin kita kami capai menjadi
lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan
kepada Bapak dan Ibu Dosen UNIVERSITAS PEITA BANGSA khususnya Ibu Nur
Aeni,SE.MSi selaku Dosen Ekonomi makro kami serta teman-teman sekalian yang
telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini
terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata
bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada Bapak dan Ibu serta teman-teman sekalian, yang kadangkala
hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami, ada kritik
dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami
dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini adalah
mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi,
teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi
atau mengambil hikmah dari judul ini “Kesenjangan Pendapatan dan Tingkat
Pendidikan” sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.
Bekasi , 08 Agustus 2015
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Di Negara Indonesia sendiri
kemiskinan dan kesenjangan pendapatan warga negaranya terlihat perbedaan yang
sangat mencolok antar warga negaranya. Hal ini semakin terlihat dengan status
kemiskinan di indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kemiskinan dan
kesenjangan pendapatan menimbulkan berbagai perilaku negatif warga negaranya.
Negara Indonesia dikenal sebagai Negara agraris,
atau yang biasa dikenal sebagai Negara yang sebagian besar penduduknya bergerak
dalam bidang pertanian. Dalam Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan pemerintah
Indonesia agar memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsa. Namun
dalam kenyataannya pemerintah tidak mempunyai kepekaan yang serius terhadap
kaum miskin.
Kesenjangan
merupakan problematika kemanusiaan yang
mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun.
Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi
yang tidak hanya dialami oleh negara-negara berkembang melainkan juga negara
maju seperti Inggris dan Amerika Serikat.
Pada hal ini penyusun mencoba memaparkan kesenjangan
pendapat di Negara Indonesia . Kesenjangan
pendapatan merupakan hal yang kompleks kerana
menyangkut berbagai macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan,
kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Agar pendapatan di Indonesia dapat menurun, diperlukan dukungan dan kerja sama dari pihak masyarakat
dan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.
1.1 Perumusan
Masalah
Dalam tugas terstruktur kelompok ini, penyusun yang membahas mengenai
masalah kesenjangan
pendapatan, didapatkan rumusan masalah yang akan di bahas dalam
analisis permasalahan. Rumusan masalah tersebut, adalah sebagai berikut :
a) Apa yang menjadi maksud dari
kesenjangan pendapatan ?
b) Apa yang
menjadi masalah dasar dalam pengentasan kesenjangan pendapatan di Indonesia ?
c) Apa yang
menjadi penyebab dari kesenjangan pendapatan?
d) Apa dampak yang ditimbulkan dari
masalah kesenjangan pendapatan dan bagaimana cara mengatasi masalah ini ?
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dibuat makalah yang
membahas tentang kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia ini adalah
sebagai berikut:
1. Menumbuhkan
kesadaran masyarakat Indonesia yang mampu dalam hal materi agar ikut berperan
serta untuk mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia.
2. Memberikan informasi kepada masyarkat
Indonesia untuk menghadapi kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang merupakan
tantangan global dunia ketiga.
3. Untuk
mengetahui sejauh mana upaya yang dilakukan Pemerintah dalam mengentaskan
kemiskinan.
3.
Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
4.
Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan
pendidikan di Indonesia
1.3 Manfaat
1. Bagi penulis
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas
terstruktur dari mata pelajaran ” Ekonomi ”. Serta mampu menjadi sumber informasi bagi para
pelajar, para pembaca ataupun masyarakat.
2. Bagi pihak lain
Makalah ini diharapakan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan
dengan permasalahan dan upaya penyelesaian kemiskinan dan kesenjangan
pendapatan di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Kesenjangan Pendapatan
Ketimpangan
pendapatan yang terjadi di Indonesia sangat terlihat jelas, dari istilah yang
kayak semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Hal ini sangat berdampak
pada pendapatan tersebut tidak cukup hanya bicara mengenai subsidi modal
terhadap kelompok miskin maupun peningkatan pendidikan ( ketrampilan ) tenaga
kerja di Indonesia. Lebih penting dari itu ,persoalan yang terjadinya
sesungguhnya adalah akibat kebijakan pembangunan ekonomi yang kurang tepat dan
bersifat struktural. Maksudnya kebijakan masa lalu yang begitu menyokong sektor
industri dengan mengorbankan sektor lainnya patut direvisi karena telah
mendorong munculnya ketimpangan sektoral yang berujung kepada kesenjangan
pendapatan. Dari perspektif ini agenda mendesak bagi Indonesia adalah
memikirkan kembali secara serius model pembangunan ekonomi yang secara serius
model pembangunan ekonomi yang secara serentak bisa memajukan semua sektor dengan
melibatkan seluruh rakyat sebagai partisipan. Sebagian besar ekonom meyakini
bahwa strategi pembangunan itu adalah modernisasi pertanian dengan melibatkan
sektor industri sebagai unit pengolahnya.
Ketimpangan
atau kesenjangan pendapatan adalah menggambarkan distribusi pendapatan
masyarakat di suatu daerah atau wilayah pada waktu tertentu. Kaitan kemiskinan
dengan ketimpangan pendapatan ada beberapa pola yaitu :
a) Semua anggota
masyarakat mempunyai income tinggi ( tak ada miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya tinggi.
b) Semua anggota
masyarakat mempunyai income tinggi ( tak ada miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya rendah ( ini yang paling baik).
c) Semua anggota
masyarakat mempunyai income rendah ( semuanya miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya tinggi.
d) Semua anggota
masyarakat mempunyai income yang rendah (semuanya miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya rendah.
e) Tingkat income
masyaraka bervariasi ( sebagian miskin,sebagian tidak miskin)tetapi ketimpangan
pendapatannya tinggi.
f) Tingkat income
masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin)tetapi
ketimpangan pendapatannya rendah.
2.2
Masalah Dasar
Di Indonesia pada awal pemerintahan
Orde Baru, pemerintah menetapkan kebijaksanaan pembangunan yang disebut dengan
“TRICKLE DOWN EFFECTS” yaitu bagaimana mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dalam suatu periode yang relatif singkat. Pembangunan ekonomi nasional
dimulai dari Pulau Jawa (khususnya jawa Barat), dengan alasan bahwa di Pulau
Jawa sudah tersedia infrastruktur, dengan harapan bahwa hasil-hasil pembangunan
itu akan menetes ke sektor dan wilayah lain di Indonesia. Akan tetapi sejarah
menunjukkan bahwa setelah 10 tahun berlalu sejak Pelita I (1969) ternyata efek
tersebut tidak tepat. Perekonomian Indonesia pada 2010 tumbuh 6,1 persen,
melampaui target 5,8 persen. Nilai produk domestik bruto naik dari Rp 5.603,9
triliun pada 2009 menjadi Rp 6.422,9 triliun tahun lalu. Namun, pertumbuhan
ekonomi ini menimbulkan kesenjangan di masyarakat.Pengamat ekonomi mengatakan,
kelompok masyarakat yang sangat kaya masih menjadi penyokong utama pertumbuhan
ekonomi melalui konsumsi rumah tangga mereka. Hal ini sangat jelas bahwa
orang yang sangat kaya memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia.
Pengentasan
kesenjangan pendapatan tetap merupakan salah satu masalah yang paling
mendesak di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan
penghasilan kurang dari AS$2-per hari hampir sama dengan jumlah total penduduk
yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2- per hari dari semua negara di
kawasan Asia Timur kecuali Cina. Komitmen pemerintah untuk mengentaskan
kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009
yang disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
(SNPK). Di samping turut menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau
Millennium Development Goals) untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah
menyusun tujuan-tujuan pokok dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009,
termasuk target ambisius untuk mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen
pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009. Walaupun angka kesenjanganpendapatan nasional
mendekati kondisi sebelum krisis, hal ini tetap berarti bahwa sekitar 40
juta orang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Lagi pula, walaupun
Indonesia sekarang merupakan negara berpenghasilan menengah, proporsi penduduk
yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2-per hari sama dengan negara-negara
berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.
Ada
tiga ciri yang menonjol dari kesenjangan pendapatan di Indonesia.
1. Banyak
rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan
nasional, yang setara dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk
yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan.
2. Ukuran
kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas
kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong
(miskin dari segi pendapatan) dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar
kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator
pembangunan manusia.
3. Perbedaan
antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.
Banyak
penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan nasional
sejumlah
besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional.
Hampir 42 persen dari seluruh rakyat.
Kemiskinan dari segi non-pendapatan adalahmasalah
yang lebih serius dibandingkan dari kemiskinan dari
segi pendapatan. Bidang-bidang khusus yang patut diwaspadai adalah:
·
Angka
gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun
terakhir: seperempat anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk
di Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama dalam tahun- tahun
terakhir kendati telah terjadi penurunan angka kemiskinan.
·
Kesehatan
ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di kawasan yang
sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000 kelahiran
hidup), tiga kali lebih besar dari Vietnam dan enam kali lebih besar dari Cina
dan Malaysia hanya sekitar 72 persen persalinan dibantu oleh bidan terlatih.
·
Lemahnya
hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah
dasar ke sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara
penduduk miskin: di antara kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin,
hanya 55 persen yang lulus SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya adalah 89
persen untuk kohor yang sama.
·
Rendahnya
akses terhadap air bersih, khususnya di antara penduduk
miskin. Untuk kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang
memiliki akses air bersih di daerah pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78
persen.
·
Akses
terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan puluh
persen penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk miskin di
perkotaan tidak memiliki akses terhadap tangki septik, sementara itu hanya
kurang dari satu persen dari seluruh penduduk Indonesia yang
terlayani oleh saluran pembuangan kotoran berpipa.
Perbedaan
antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Keragaman antar daerah merupakan
ciri khas Indonesia, di antaranya tercerminkan dengan adanya perbedaan antara
daerah pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan, terdapat sekitar 57 persen dari
orang miskin di Indonesia yang juga seringkali tidak memiliki akses terhadap
pelayanan infrastruktur dasar hanya sekitar 50 persen masyarakat miskin di
pedesaan mempunyai akses terhadap sumber airbersih, dibandingkan dengan 80
persen bagi masyarakat miskin di perkotaan. Tetapi yang penting, dengan
melintasi kepulauan Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam
kantong-kantong kemiskinan di dalam daerah itu sendiri.
Studi-studi mengenai distribusi
pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran
konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
Demikian pula pengertian pendapatan
yang artinya pembayaran yang di dapat karena bekerja atau menjual jasa tidak
sama dengan pengertian kekayaan. Kekayaan seseorang bisa jauh lebih besar dari
pada pendapatannya.
Boleh dikatakan bahwa baru sejak
akhir 1970-an pemerintah Indonesia ulai memperlihatkan kesungguhan dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak saat itu aspek pemerataan dalam
trilogi pembangunan semakin di tekankan dan ini diidentifikasikan dalam delapan
jalur pemerataan, sudah banyak program-program dari pemerintah pusat hingga
saat ini mencerminkan upaya tersebut seperti:
a) Program serta kebijakan yang
mendukung pembangunan industri kecil
b) Rumah tangga dan koperasi
c) IDT
d) Program keluarga sejahtera
e) Program keluarga berencana (kb)
f) Program makanan tambahan bagi anak
sekolah dasar
g) Program transmigrasi
h) Peningkatan UMR atau provinsi (UMP)
i) Jaringan pengamana sosial yang di
sponsori bank dunia
2.3 Faktor Penyebab
Kesenjangan Pendapatan
Secara teoritis perubahan pola
distribusi pendapatan di perdesaan di sebabkan oleh faktor-faktor berikut:
1.Akibat arus penduduk/L dari
perdesaan ke perkotaaan yang selama Orde Baru berlansung sangat pesat.
2.Struktur pasar dan besarnya
distoris yang berbeda di perdesaan dengan perkotaan.
3.Dampak positif dari proses
pembanguan ekonomi nasional diantaranya:
a.
Semakin banyaknya kegiatan-kegiatan
ekonomi di perdesaan di luar sektor pertanian seperti industri manufaktur.
b.Tingkat produktivitas dan pendapatan (dalam nilai riil) L
di sektor pertanian meningkat.
c.
Potensi SDA ( sumber daya alam) yang
ada di perdesaan semakin baik karena di manfaatkan oleh penduduk desa (pemakain
semakin optimal)
Tingkat kesenjangan distribusi
pendapatan diIndonesia dapat juga di ukur dengan metode Bank Dunia, yakni
membagi jumlah populasi ke dalam tiga kelompok yakni:
a. 40% berpedapatan rendah
b. 40% berpendapatan menengah
c. 20 % berpendapatan tinggi
Kelompok pertama adalah bagian dari populasi terkaya sedangkan kelompok ke tiga
adalah bagian dari populasi termiskin dan kelompok kedua sering di sebut/
dikatakan sebagai masyarakat kelas menengah.
Di Indonesia kemiskinan dan kesenjangan pendapatan merupakan salah satu masalah
besar. Terutama melihat kenyataan bahwa laju penguranag jumlah orang miskin di
tanah air bedasarkan garis kemiskinan yang berlaku jauh lebih lambat
dibandingkan laju perekonomian pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu
sejak PELITA I hingga 1997( sebelum krisi ekonomi).
Adapun
indikator – indikator kesenjangan pendapatan antara lain sebagai beikut :
1. UMR yang
ditentukan pemerintah antara pegawai swasta dan pegawai Pemerintah yang
berbeda.
2. PNS (
golongan atas ) lebih sejahtera dibandingkan petani.
3. Pertanian
kalah jauh dalam menyuplai Produk Domestik Bruto ( PDB ) yang hanya sekitar 9.3
% di tahun 2011, padahal Indonesia merupakan Negara agraris.
Selain
itu,penyebab kesenjangan
pendapatan di negara Indonesia adalah :
a. Laju
Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan
penduduk Indonesia terus menigkat di setiap 10 tahun menurut hasil sensus
penduduk.Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin terpuruk dengan
keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding
dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya
beban ketergantungan yang harud ditanggung membuat penduduk hidup di bawah
garis kemiskinan.
b. Angkatan Kerja,
Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran.
Secara garis
besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan
tenaga kerja. Yang tergolong tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam
batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu
dengan yang lain. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10
tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi setiap orang atau semua penduduk
kesenjangan dikatakan lunak,distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup
merata.
c. Tingkat
pendidikan yang rendah.
Rendahnya
kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara.
Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan
tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry, jelas sekali
dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak
dapat membaca dan menulis.
d. Kurangnya
perhatian dari pemerintah.
Pemerintah yang
kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadi salah
satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memutuskan kebijakan yang mampu
mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya. Faktor lain yang masih
memperlambat pencapaian penurunan kemiskinan sebagai berikut :
1. Belum meratanya
program pembangunan,khususnya di pedesaan,luar Pulau Jawa,daerah terpencil,dan
daerah perbatasan. Sekitar 63.5% penduduk miskin hidup di daerah pedesaan.
Kemiskinan diluar Pulau Jawa termasuk Nusa Tenggara, Maluku dan Papua
juga lebih tinggi dibandingkan di Pulau Jawa. Oleh karena itu, upaya penanganan
kemiskinan seharusnya lebih difokuskan di daerah-daerah tersebut.
2. Masih
terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar.
3. Masih besarnya
jumlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin,baik karena guncangan ekonomi,bencana
alam,dan juga akibat kurangnya akses terhadap pelayanan dasar dan sosial.
4. Kondisi
kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kebutuhan pokok. Sehubungan
dengan itu ,upaya penanggulangan kemiskinan melalui stabilitas harga kebutuhan
pokok harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Hal ini bertujuan agar
penanggulangan kemiskinan,baik di perdesaan maupun perkotaan dapat berjalan
secara efektif dan efisien
Dampak dari kesenjangan pendapatan terhadap
masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks yaitu :
- Pengangguran
Karena tidak bekerja dan tidak memiliki
penghasilan yang
sesuai dengan usahanya mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara
otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat.
Sehingga,akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat
pendapatan,nutrisi,dan tingakt pengeluaraan rata-rata.
- Kekerasan
Sesungguhnya kekerasan yang terjadi
akhir-akhir ini efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari
nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tidak ada lagi jaminan bagi
seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas
pun dilakukan,seperti merampok,menodong,mencuri atau menipu ( dengan cara
mengintimidasi orang lain) didalam kendaraan umum.
- Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi
merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini.Mahalnya biaya pendidikan membuat
masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan.
Mereka tidak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab
mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan
seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan
pekerjaan yang lebih layak.
Pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya makin
rendah.Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara
berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14
negara.Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari
14 negara berkembang.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam
menggali potensi anak.Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa
pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki
siswanya.Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan
potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak
bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut
ilmu.Prosespendidikan yang baik adalah dengan memberikan
kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya
gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan.
Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa,
kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin
buram.Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan
kebutuhan masyarakat.Lebih parah lagi, pendidikan tidak mampu
menghasilkan lulusan yang kreatif.Ini salahnya, kurikulum dibuat di Jakarta dan
tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah.Jadi, para lulusan hanya pintar
cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal
lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas.Kualitas pendidikanIndonesia sangat memprihatinkan.Berdasarkan analisa dari
badan pendidikan dunia (UNESCO), kualitas para guru
Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia
Pacifik.Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini dibawah Vietnam yang
negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu.Sedangkan untuk kemampuan membaca,
Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Lemahnya
input quality, kualitas guru kita ada diperingkat 14 dari 14 negara berkembang.
Ini juga kesalahan negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitaspendidikan.Dari sinilah penulis mencoba untuk membahas lebih dalam
mengenaipendidikan di Indonesia dan segala dinamikanya.
Untuk mengatasi
masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan
yaitu:
Pertama, solusi
sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan
dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan
dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang
ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab
neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung
jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
Maka, solusi
untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan
–seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya
pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan
sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer
sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib
dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa
pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
Kedua, solusi
teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung
dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas
guru dan prestasi siswa.
Maka, solusi
untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk
meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di
samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan
membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan
memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya
prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan
kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana
pendidikan, dan sebagainya.
- Kesehatan
Seperti kita ketahui,biaya pengobatan
sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit
swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit.
Sehingga ,biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
- Konflik
sosial bernuasa SARA
Tanpa bersikap munafik konflik SARA
muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal
ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono
menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan”keamanan” dan perlindungan hukum
dari negara,persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam
bentrokan identitas yang subjtektif.
Terlebih lagi fenomena bencana alam
yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya
jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan,
semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia ,baik di pedesaan
maupun di perkotaan.
Pada prinsipnya, pemerintah dalam
program pembangunannya telah menjadikan kemiskinan sebagai salah satu fokus
utamanya. Program umum pemerintah sendiri adalah program pembangunan yang
berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan
perluasan lapangan kerja.
Banyak kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah untuk dapat mengatasi berbagai macam masalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Kebijaksanaan
tidak langsung
Kebijaksanaan tidak langsung diarahkan
pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan
kemiskinan. Kondisi yang dimaksudkan antara lain adalah suasana sosial politik
yang tentram, ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang.
2. Kebijaksanaan
langsung
Kebijaksanaan langsung diarahkan kepada
peningkatan peran serta dan produktifitas sumber daya manusia ,khususnya
golongan masyarakat berpendapatan rendah. Melalui penyediaan kebutuhan dasar
seperti sandang,pangan dan papan, kesehatan dan pendidikan, serta pengembangan
kegiatan – kegiaatan sosial ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong
kemandirian golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.
Selain dari pihak pemerintah, dari
pihak masyarakaat yang bersangkutan pun juga mengatasi kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di negeri ini
,langkah-langkah tersebut adalah :
1. Usaha individu
Seseorang boleh berusaha untuk
menyelesaikan maslah kemiskinan yang dihadapinya oleh dirinya. Pada lazimnya
seseorang itu dapat mengatasi kemiskinan dirinya dengan cara penerusan
pendidikan ke jenjang yang tinggi.
2. Penyedekahan
Penyedekahan merupakan saru cara yang
baik untuk membantu golongan termiskin dalam masyarakat .Tetapi ia tidak dapat
mengatasi masalah kemiskinan secara keseluruhan.
3. Pembangunan
Ekonomi
Pembangunan ekonomi dengan cara
penambahan barang-barang dan perkhidmatan yang ditawarkan dalam pasaran di
sebuah negara, pembangunan ekonomi merupakan cara yang paling berkesan untuk
mengatasi masalah kemiskinan.
4. Pembangunan
Masyarakat
5. Pasaran Bebas
Jika ada pembangunan ekonomi ada pula
pengurangan kemiskinan. Jika KDNK tumbuh dengan 1% kemiskinan akan dikurangi
dengan lebih kurang 1%.
Selain dengan cara –cara diatas ,
kemiskinan dan
kesenjangan pendapatan juga dapat diatasi
dengan cara sebagai berikut :
1. Bantuan
kemiskinan atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi
bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
2. Bantuan
terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan termasuk
hukuman,pendidikan,kerja sosial,pencarian krja,dan lain-lain.
3. Persiapan
bagi yang lemah . daripada memaberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin ,banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang
dikategorikan sebagai oran g yang lebih miskin, seperti orang tua atau orang
dengan ketidakmampuan , atau keasdaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan
akan perawatan kesehata
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi kesimpulan yang telah kita buat
di atas, disini tingkat kemiskinan dan kesenjangan pendapatan adalah hal yang
tidak bisa dipisahkan bahkan sangat erat kaitannya dan ini merupakan masalah
ekonomi indonesia yang masih belum bisa di selesaikan. Tahun ini tingkat
kemiskinan di indonesia semakin meningkat, dimana sedikitnya lapangan kerja
untuk masyarakat dan kemampuan/keterampilan. Masyarakat tidak bisa dimilikinya,
karena kurangnya pendidikan di indonesia masih menjadi masalah. Maka dari itu
pemerintah harus memberikan lapangan pekerjaan bagi para pengangguran dan
membuat bangunan sekolahan untuk masyarakat yang tidak mampu.
Kualitas
pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan
kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab
utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih
kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:
(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan
pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi pendidikan
dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya pendidikan.
Adapun solusi
yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah
sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan
kualitas guru serta prestasi siswa.
3.2 Saran
Dalam
menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih
kreatif,inovatif dan eksploratif. Selain itu,globalisasi membuka mata bagi
Pegawai pemerintah,maupun calon pegawai pemerintah agar berani mengambil sikap
yang lebih tegas sesuai dengan visi dan misi bangsa Indonesia ( tidak
memperkaya diri sendiri dan kelompoknya). Dan mengedepankan partisipasi
masyarakat Indonesia untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman
globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam
pengetahuan,wawasan,skill,mentalitas dan moralitas yang standarnya adalah
standar global.
Perkembangan dunia
di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan
nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang.
Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin
ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas
pendidikannya terlebih dahulu.
Dengan
meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan
semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat
dalam segala bidang di dunia internasional.
DAFTAR PUSTAKA
Tambunan,Tulus (2003), Perekonomnian Indonesia ,”Ghalia
Indonesia,Jakarta.
http://catatankuliahfethamrin.blogspot.com/2013/01/makalah-tentang-kemiskinan-dan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar